Posted in

Pencarian Arupadhatu 1 Dihentikan, SAR Andalkan Informasi Pelaut dan Nelayan

Odih Kodari, Okasi TV
Kepala Basarnas Banten Al Amrad terkait pencarian Arupadhatu 1 berakhir
Caption: Kepala Basarnas Banten, Al Amrad. (Foto: Istimewa)

OKASI TV | SERANG – Tim SAR gabungan menghentikan operasi pencarian Arupadhatu 1 yang hilang di perairan Selat Sunda setelah masa pencarian diperpanjang hingga 10 hari.

Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, tim telah menjalankan pencarian sejak menerima informasi hilangnya kapal tersebut pada 8 September 2026.

“Informasi yang kami terima tanggal 8 kita tindaklanjuti hingga tanggal 14. Kita masih melakukan pencarian di lokasi hilangnya para korban,” kata Al Amrad, Rabu (23/9/2026).

Basarnas kemudian memperpanjang operasi hingga 10 hari karena tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang di dalamnya.

“Sejak tanggal 17, SAR gabungan masih menyisir. Masalah pencarian ulang, secara aturan kita melaksanakan pencarian tujuh hari, diperpanjang sampai 10 hari. Tidak ada tanda-tanda korban,” ujarnya.

Al Amrad mengatakan, tim SAR gabungan tetap menyisir sejumlah wilayah setelah masa operasi resmi berakhir, tetapi upaya tersebut belum menemukan kapal maupun korban lainnya.

Baca Juga: Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Dihentikan, Basarnas Pantau Selat Sunda

Basarnas kini mengalihkan operasi pencarian menjadi pemantauan dengan mengandalkan informasi dari pelaut dan nelayan yang melintas di sekitar Selat Sunda.

“Penghentian atau pembukaan kembali, jika setelah masa perpanjangan korban tetap tidak ditemukan dan tidak ada tanda-tanda penemuan, operasi dapat ditutup atau dialihkan menjadi pemantauan atau pengawasan tanpa batas waktu,” katanya.

Keputusan tersebut tetap berlaku meski warga menemukan satu jenazah di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, yang diduga berkaitan dengan hilangnya Arupadhatu 1.

Polisi menduga jenazah tersebut merupakan Surakman alias Sukarman (60), salah satu kru kapal yang hilang saat berlayar di Selat Sunda.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengky mengatakan, temuan di Pulau Enggano menjadi informasi penting bagi petugas dalam memantau kemungkinan penemuan korban lainnya.

“Dengan ditemukannya satu korban, sementara pencarian meminta bantuan transportasi laut bilamana menemukan seperti di Pulau Enggano ini, maka segera memberitahukan kepada petugas, supaya kita lakukan hal yang sama seperti yang ditemukan sekarang ini,” kata Hengky.

Baca Juga: Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda, Basarnas Kerahkan Tim SAR

Hengky mengatakan, petugas sampai sekarang belum menemukan Arupadhatu 1 sehingga kondisi kapal tersebut belum dapat dipastikan.

“Kepastian keseluruhan kapal itu terbakar, tenggelam tidak diketahui, karena sampai sekarang kapal itu tidak ditemukan. Belum jelas ditenggelamkan atau apa, saya tidak menjawab itu,” ujar Hengky.

Arupadhatu 1 membawa delapan orang yang terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Rombongan tersebut berlayar untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026), sebelum kehilangan kontak.

Setelah operasi pencarian berakhir, informasi dari masyarakat, pelaut, dan nelayan menjadi bagian penting dalam pemantauan keberadaan korban maupun kapal tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *