Posted in

Tradisi Ngatir di Desa Talagahiyang, Warisan Leluhur yang Tak Lekang

Odih Kodari, Okasi TV
Warga Desa Sipayung membawa Hanceungan dalam tradisi Ngatir
Caption: Warga Desa Sipayung membawa Hanceungan dalam rangkaian tradisi Ngatir di Desa Talagahiyang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Selasa (25/8/2026). (Foto: Dok. Warga)

OKASI TV | KAB. LEBAK – Warga Desa Talagahiyang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, kembali menjalankan tradisi Ngatir sebagai warisan leluhur yang terus mereka pertahankan hingga kini.

Ngatir merupakan tradisi tukar makanan antarkampung yang dilakukan masyarakat pada 12 Rabiul Awal saat Maulid Nabi dan 15 Sya’ban saat Ruwahan.

Dalam tradisi tersebut, warga menyiapkan Hanceungan berupa bakul besar yang berisi nasi, ayam panggang, makanan ringan, serta hidangan lain untuk dibawa dalam rangkaian Ngatir.

Baca Juga: Semarak HUT Ke-81 RI di Desa Talagahiyang, Beragam Turnamen dan Lomba Meriahkan Perayaan Kemerdekaan

Pelaksanaan Ngatir di Desa Talagahiyang berlangsung di Masjid Jami Al-Kautsar yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dalam rangkaian tradisi tersebut.

Warga Talagahiyang menyuguhkan aneka makanan ringan dan minuman untuk menyambut masyarakat Desa Sipayung yang datang dalam rangkaian Ngatir.

Tradisi ini mempertemukan warga Desa Talagahiyang dan Desa Sipayung melalui kegiatan tukar makanan yang berlangsung secara bergantian.

Warga kemudian membagikan Hanceungan kepada masyarakat Desa Sipayung dengan jumlah penerima yang disesuaikan dengan banyaknya Hanceungan dan jumlah peserta yang mengikuti Ngatir.

Selepas zuhur, warga Desa Talagahiyang mendatangi Desa Sipayung untuk melanjutkan rangkaian Ngatir yang berlangsung secara bergantian.

Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-81, Berikut Rangkaian Kegiatan yang Disiapkan PHBN Kecamatan Cipanas

Warga Desa Talagahiyang, Anwarudin Putra Pamungkas yang akrab disapa Awang, menilai Ngatir merupakan warisan leluhur yang mengajarkan masyarakat untuk berbagi sekaligus menjaga silaturahmi.

“Sejak dulu Ngatir sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sini, terutama ketika Maulid dan Ruwahan, sehingga sampai sekarang masih kami jalankan,” ujar Awang, Selasa (25/8/2026).

Awang mengatakan, tradisi berbagi makanan dalam Ngatir juga menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmat yang mereka terima.

“Kita menyiapkan makanan untuk dibagikan dan ditukar dengan warga Sipayung, mudah-mudahan dari kebiasaan berbagi ini ada keberkahan untuk kita semua,” katanya.

Selain berbagi makanan, Awang melihat pertemuan masyarakat Talagahiyang dan Sipayung sebagai bagian penting dari Ngatir karena warga dapat saling berkunjung dan mempererat silaturahmi.

“Kita datang ke Sipayung, mereka juga datang ke Talagahiyang, jadi bukan hanya makanan yang bertukar, tetapi kita juga bisa bertemu dan bersilaturahmi,” imbuhnya.

Reporter : Odih Kodari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *