Posted in

Kampung Somang Kembali Terlihat Saat Bendungan Karian Surut, Warga Kenang Kehidupan Sebelum Relokasi

Bekas permukiman Kampung Somang kembali terlihat saat air Bendungan Karian surut di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.
Bekas rumah dan infrastruktur Kampung Somang kembali terlihat saat permukaan air Bendungan Karian menyusut pada musim kemarau di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Senin (27/7/2026). Fenomena ini menarik perhatian warga yang pernah bermukim di kawasan tersebut. (Foto: Istimewa)

OKASI TV | KAB. LEBAK – Surutnya permukaan air Bendungan Karian pada musim kemarau kembali memperlihatkan sisa-sisa Kampung Somang di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, yang telah lama tenggelam sejak pembangunan waduk tersebut, sekaligus membangkitkan kenangan warga yang pernah bermukim di kawasan itu.

Fenomena yang terjadi dalam beberapa hari terakhir itu memperlihatkan kembali bekas rumah, pondasi bangunan, hingga ruas jalan kampung yang selama ini berada di dasar genangan waduk.

Bagi warga Desa Sukajaya dan Desa Sukarame, kemunculan kembali Kampung Somang bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pengingat akan kampung halaman yang mereka tinggalkan beberapa tahun lalu.

Husen (40), salah seorang warga terdampak relokasi, mengaku emosional saat kembali menyusuri bekas kampungnya menggunakan perahu pada Senin (27/7/2026).

“Itu bekas rumah saya. Di sana sawah kami dulu,” katanya lirih sambil menunjuk ke arah bangunan yang mulai tampak dari permukaan air.

Di lokasi tersebut masih terlihat sisa tembok rumah tanpa atap, pondasi yang retak, serta pepohonan mati yang menjulang dari dasar waduk.

Sebelum Bendungan Karian dibangun, sekitar 300 kepala keluarga (KK) bermukim di Kampung Somang dengan mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama.

Saat pemerintah menetapkan Bendungan Karian sebagai Proyek Strategi Nasional (PSN), sebagian warga sempat menolak relokasi karena khawatir kehilangan rumah, lahan pertanian, dan mata pencaharian.

Namun setelah banjir bandang melanda Kabupaten Lebak pada 2021, warga secara bertahap meninggalkan kampung tersebut dan berpindah ke kawasan relokasi, di antaranya Somang Baru dan Cipagar.

“Tadinya kami menolak pindah karena rumah dan mata pencaharian kami ada di sini,” ujar Husen.

Menurut Husen, perubahan paling besar yang dirasakan warga bukan hanya hilangnya permukiman, tetapi juga berubahnya cara mereka mencari nafkah.

“Kami dulu petani. Sawah kami luas. Sekarang semuanya terendam. Dulu kami tidak pernah membeli beras, sekarang harus membeli. Kami juga baru belajar menggunakan jaring dan pancing setelah ada waduk,” tuturnya.

Ia mengatakan, sebelum kawasan tersebut menjadi waduk, hasil panen sawah mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga tanpa harus membeli beras.

Kini, sebagian warga berupaya bertahan dengan mencari ikan di Bendungan Karian, meski hasilnya dinilai belum mampu menggantikan pendapatan saat masih menggarap sawah.

Menjelang sore, sejumlah warga tampak datang untuk melihat kembali bekas kampung yang muncul akibat surutnya air waduk.

Sebagian mengabadikan momen dengan telepon seluler, sementara lainnya memilih berdiri dalam diam memandangi puing-puing rumah yang pernah menjadi tempat mereka tumbuh dan membangun kehidupan.

Husen mengaku tidak lagi berharap Kampung Somang dapat kembali seperti semula, tetapi berharap kehidupan warga yang terdampak relokasi dapat semakin baik.

“Kami tidak meminta kampung ini hidup lagi. Kami hanya ingin bisa hidup seperti dulu, bertani, dan mencukupi kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Kemunculan kembali Kampung Somang diperkirakan hanya berlangsung selama musim kemarau karena saat curah hujan meningkat dan permukaan Bendungan Karian kembali naik, kawasan tersebut akan kembali tertutup genangan air. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *