Posted in

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Lebak Dorong Pelajar Lestarikan Bahasa Sunda

Odih Kodari, Okasi TV
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Lebak dalam upaya melestarikan bahasa Sunda
Caption: Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Lebak digelar di Gedung PGRI Lebak dan SMPN 6 Rangkasbitung, 25–26 September 2026. (Dok. Dindik Lebak)

OKASI TV | KAB. LEBAK – Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi bagian dari ingatan, identitas, dan warisan budaya yang tumbuh dari kehidupan masyarakat.

Di tengah penggunaan bahasa yang terus berubah, upaya mengenalkan bahasa Sunda kepada generasi muda menjadi penting agar warisan tersebut tetap hidup dan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Semangat itu terasa dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Lebak yang mempertemukan pelajar SD dan SMP melalui kegiatan bahasa, sastra, dan budaya Sunda.

Kegiatan yang digelar pada 25–26 September 2026 tersebut berlangsung di Gedung PGRI Lebak dan SMPN 6 Rangkasbitung.

Panitia menghadirkan tujuh jenis perlombaan sebagai ruang bagi pelajar untuk mengasah kemampuan berbahasa sekaligus mengenal sastra dan budaya Sunda.

Pelaksanaan FTBI melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak dan Kantor Bahasa Provinsi Banten dalam upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah di lingkungan pendidikan.

Baca Juga: Dinas Pendidikan Lebak Turun Langsung Pantau Revitalisasi Sekolah Penerima Program 2026

Ketua Panitia FTBI Lebak, Usep Saepullah mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan tujuh perlombaan dengan dukungan Dinas Pendidikan, Kantor Bahasa Provinsi Banten, dan pihak sekolah.

“Dalam kegiatan ini ada tujuh lomba. Kami mengapresiasi kontribusi Dinas Pendidikan, Kantor Bahasa Provinsi Banten, dan pihak sekolah yang telah mendukung pelaksanaan FTBI,” ujar Usep.

Suasana kegiatan juga kental dengan unsur budaya lokal sejak pembukaan melalui pemasangan pin golok kepada para undangan naratama.

Siswa SMPN 2 Sobang kemudian menampilkan tari bertema padi sebelum seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Rangkaian tersebut menjadi pengantar bagi pesan utama FTBI tentang pentingnya menjaga bahasa Sunda tetap digunakan oleh generasi muda.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten menyebut penggunaan bahasa daerah menunjukkan tren penurunan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kondisi tersebut membuat lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam menjaga bahasa, sastra, dan budaya Sunda agar tetap dikenal dan digunakan generasi berikutnya.

“Pengajaran bahasa Sunda dapat dilakukan di sekolah agar bahasa, sastra, dan budaya Sunda di Lebak tetap lestari. Jangan sampai hilang bahasa, hilang pula bangsa. Jangan malu berbahasa Sunda,” pesannya.

Pesan itu sejalan dengan perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak yang mendorong pelestarian budaya melalui lingkungan pendidikan.

Baca Juga: Selain Pendidikan Gratis, Prabowo Berkomitmen Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Doddy Irawan mengapresiasi pihak-pihak yang mendukung FTBI sekaligus mendorong penggalian warisan leluhur sebagai potensi yang dapat dikembangkan.

“Harapannya, FTBI ini dapat mendukung bidang pariwisata. Selama ini kita selalu mengunggulkan sumber daya alam, tetapi potensi warisan leluhur juga perlu digali,” ujar Doddy.

Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui program Geulis atau Gerakan Lestari Budaya Sunda yang dijalankan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.

Salah satu kegiatannya berupa Gerakan Rabu Nyunda yang mendorong pelajar menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

“Gerakan ini untuk menghidupkan budaya Sunda agar tidak hilang,” ujarnya.

Pelestarian bahasa Sunda melalui FTBI juga tidak berhenti di tingkat Kabupaten Lebak karena kegiatan tersebut berlanjut ke tingkat Provinsi Banten.

Kantor Bahasa Provinsi Banten menjadwalkan FTBI tingkat provinsi pada 5 Oktober 2026 di Gedung PGRI Kabupaten Lebak.

Peserta tingkat provinsi akan mengikuti tujuh kategori, yakni cerpen, puisi, dongeng, pidato, lagu daerah, komedi tunggal, dan aksara Sunda.

Dengan rangkaian tersebut, FTBI menjadi ruang bagi pelajar untuk berkompetisi sekaligus menggunakan bahasa Sunda, mengenal sastra, dan mendekatkan diri dengan warisan budaya daerah.

Reporter : Odih Kodari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *